-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

Merawat Damai dengan Cinta

mrb
Thursday, August 14, 2025, August 14, 2025 WIB Last Updated 2025-08-14T14:19:13Z

 

Dr. Tgk. H. Munawar A. Djalil, MA
(Kepala Dinas Dayah Aceh)


Merawat Damai dengan Cinta

Oleh : Dr. Tgk. Munawar  A. Djalil. MA

 

Hadirin Jamaah Jumat yang Berbahagia

Puji syukur kehadirat Allah Swt, Shalawat salam kepada Rasullullah Saw kepada Keluarga dan Sahabat Beliau sekalian

 

Hari ini 15 Agustus 2025 merupakan hari yang sangat bersejarah  terutama bagi kita masyarakat Aceh. Kenapa tidak, karena setelah 30 tahun lebih konflik mendera Aceh disepakatilah perjanjian damai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka melalui penandatanganan MoU Helsinki di Finlandia 15 Agustus 2005.

 

Artinya selama dua dekade (20 tahun) ini masyarakat Aceh telah merasakan begitu besar karunia  Allah yang diberikan kepada Masyarakat Aceh berupa nikmat kedamaian dan tentunya sebagai muslim kita wajib mensyukurinya

 

Oleh karenanya dalam memaknai damai, marilah kita menempatkan diri sebagai hamba Allah yang taat dan mensyukuri kedamaian sebagai nikmat Allah. Perlu kita ketahui bahwa setiap nikmat itu dapat menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat  lainnya.  Kita selalu berharap kepada nikmat, padahal rahasia untuk mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada. Syukur adalah  gairah yang akan mengundang nikmat yang lebih besar.

 

Hari-hari ini  dan masa masa mendatang yang paling penting kita bicarakan adalah bagaimana mensyukuri nikmat yang telah kita peroleh dan bagaimana mengisi damai itu dengan amalan kebajikan dan merawatnya dengan hati yang berlandaskan cinta dan kasih sayang sesama.

 

Hadirin Jamaah Jumat yang Berbahagia

Salah satu bentuk implementasi rasa syukur masyarakat Aceh dengan nikmat damai 20 tahun adalah membumikan kecintaan dan menguburkan segala macam bentuk kebencian dan dendam. Karena momentum damai Aceh menjadi dasar tranformasi perubahan keadaan wilayah, dari Aceh sebagai wilayah perang (Dar alharb) menjadi sebuah wilayah yang damai (Dar alsalam).

 

Bagi kita orang Aceh yang terkenal sebagai masyarakat yang religius, tentu kita memahami bahwa Islam adalah sebuah agama yang mengajarkan perdamaian. sebagaimana banyak disebut dalam al-Quran, kata “salam” yang bermakna damai adalah salah satu dari sebutan nama-nama Allah (Asmaul husna). Salam juga dipergunakan oleh Islam sebagai sebutan yang diucapkan dalam tasyahud di waktu shalat. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari ketika muslim bertemu dengan saudaranya sesama muslim, dua-duanya disunahkan saling mengucapkan “Assalamualaikum” (salam sejahtera bagi kalian).

 

Artinya Islam sangat mendambakan terwujudnya kedamaian di muka bumi, karena kedamaian itu merupakan nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia yang wajib dilestarikan, karena sejatinya ajaran Islam sendiri lahir membawa misi  perdamaian dan salah satu aspek terpenting dalam misi ini adalah menjaga persatuan dan kesatuan yang dalam termenologi ajaran disebut Ukhuwah Islamiyah berlandaskan cinta dan kasih sayang.

 

Hadirin Jamaah Jumat yang Berbahagia

Sehubungan dengan itu, pada kesempatan ini Khatib akan menjelaskan betapa tingginya derajat orang-orang yang senantiasa selalu menjaga hati penuh dengan cinta dan kasih sayang. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasai, Anas bin Malik bercerita  Rasulllullah Saw berkata: Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.”

 

Tak lama, para sahabatpun melihat seorang laki-laki Anshar dengan wajah basah. Air wudhu menetes dari janggutnya. Tangannya menjinjing sepasang sandal jepit. Tak ada yang spesial secara fisik. Para sahabat pun bertanya-tanya alasan apa yang membuat laki-laki tersebut menjadi penghuni surga. Tentu saja itu derajat tinggi yang sangat diinginkan setiap Muslim, apalagi para sahabat Rasul. Mereka semua menginginkan jaminan surga.

 

Keesokan hari belum terjawab rasa penasaran para sahabat, Rasulullah kembali mengucapkan hal sama. “Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.” laki-laki yang sama dengan wajah basah wudhu dan membawa sandal itu lagi yang muncul. Para sahabat semakin bertanya-tanya, namun tak ada satu pun yang berani bertanya pada Rasulullah.

 

Hingga ketiga kalinya, Rasulullah mengucapkan hal yang sama. Namun, tetap saja yang muncul laki-laki tadi. Para sahabatpun yakin laki-laki itulah calon penghuni surga. Tapi, tak satu pun sahabat yang mengetahui alasan di balik rahmat Allah memasukkan laki-laki itu dalam golongan yang selamat pada hari akhir.

 

Namun, mereka tetap merasa tak enak hati jika menanyakannya hal itu kepada Rasulullah. Tinggallah para sahabat terus dirundung keingintahuan. Salah satu sahabat yang amat penasaran, yakni Abdullah bin Amr bin Ash, memilih inisiatif untuk mencari tahu sendiri.

 

Hari ketiga setelah Rasulullah mengucapkan hal yang sama, Abdullah bin Amr bin Ash bermaksud mengikuti si laki-laki penghuni surga. Ia pun membuntutinya hingga tiba di rumah laki-laki itu.

Abdullah berpikir bagaimana cara agar ia dapat mengetahui amalan apa yang mengantarkan pria itu meraih keistimewaan sebagai penghuni surga. Ia pun kemudian menyapa pria tersebut dan bermaksud meminta izin untuk menginap di rumahnya.

 

Abdullah bermaksud tinggal di sana agar dapat mengetahui amalan si penghuni surga. “Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Jika boleh, aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari,” ujar Abdullah kepada laki-laki itu.

 

Si penghuni surga tersebut dengan senang hati menyambut Abdullah. “Tentu, silakan,” ujarnya gembira. Maka, tinggallah Ibnu Amr di rumah calon penghuni surga itu selama tiga hari.

 

Selama tinggal di sana, Abdullah mengamati setiap ibadah dan amalan yang dilakukan si calon penghuni surga. Hari pertama, Abdullah tak menemukan adanya amalan spesial dari laki-laki itu. Hari kedua, ibadahnya masih sama, tak ada yang istimewa. Hingga hari terakhir, Abdullah tak juga menemukan ibadah yang luar biasa dari si laki-laki yang berhasil meraih keutamaan surga tersebut.

 

Abdullah hanya melihat ibadah si laki-laki yang biasa,  hanya menjalankan ibadah wajib saja. Di sepertiga malam, pria itu tak pernah bangun shalat Tahajud. Meski Abdullah bin Amr selalu mendengar laki-laki itu berzikir dan bertakbir acap kali terjaga dari tidur, pria itu baru bangun saat waktu shalat subuh tiba. Luput dari shalat malam, pria penghuni surga itu pun tak menjalankan puasa sunnah. Namun, Abdullah juga tak pernah mendengar pria itu berbicara, kecuali ucapan yang baik.

 

Tiga hari terlewat tanpa menemukan jawaban apa pun. Bahkan, hampir saja Abdullah  meremehkan amalan di penghuni surga jika tak mendapat jawaban sebelum pamit. Ketika izin pulang setelah menginap tiga hari, Abdullah mengakui maksudnya untuk mencari keutamaan amalan si laki-laki itu hingga beruntung menjadi salah satu penghuni surga Allah yang dipenuhi segala kenikmatan.

 

Kepada pria itu Abdullah berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuanku menginap di rumahmu adalah karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Aku bermaksud dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Tapi, ternyata anda tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai penghuni surga?” tanyanya.

 

Laki-laki itu pun tersenyum dan menjawab ringan, “Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini.” Jawabannya itu tak memuaskan hati Abdullah ibn Amr. Namun, ketika Abdullah melangkah keluar dari rumah, laki-laki tersebut memanggilnya. Ia berkata kepada Abdullah, “Benar, amalanku seperti yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah membenci saudaraku yang lain, aku tak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya dan aku selalu  menanamkan rasa cinta kepada saudara-saudaraku”

 

Mendengarnya perkataan tersebut, takjublah Abdullah bin Amr bin Ash. Ia yakin sifat tak pernah ada kebencian, iri, dengki, dan hasad membuat pria itu masuk surga. Ia pun malu karena banyak dari Muslimin yang tak memperhatikan akhlak tersebut. Tak hanya ibadah semata yang mengantarkan manusia merasakan surga Allah, tetapi juga amalan kebaikan, termasuk sifat dan akhlakul karimah.

 

“Kemungkinan amalan inilah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi, Ini adalah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan,” ujar Abdullah karena anda selalu menghadapi sesama kaum muslim dengan hati yang bersih.

 

Hati yang bersih ini dalam Alquran disebut dengan istilah “Qalbun Salim” Alquran menyebut kata Qalbun Salim ini ketika Allah berfirman tentang suatu hari  di hari kiamat ketika tak ada orang selamat dengan harta dan anak keturunan kecuali yang membawa hati yang bersih. Allah berfirman Surat Asy-syu’ara 88-89 “Pada hari itu tak ada manfaatnya di hadapan Allah harta dan anak-anak kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih”

 

Hadirin Jamaah Jumat yang Mulia

Di dalam Islam Rasulullah yang mulia sejak awal dakwahnya mengajarkan kepada kaum muslim untuk memperlakukan kaum muslim yang lain sebagai saudara-saudaranya. Alquran mengatakan bahwa salah satu tanda orang yang beriman ialah menjalin persaudaraan dengan sesama kaum beriman yang lain : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu dirahmati” (Al-hujurat ayat 10).

 

Alquran menggunakan kalimat yang disebut Adat Alhasr  yaitu “innama” artinya yang tidak sanggup memelihara persaudaraan itu tidak termasuk orang yang beriman. Secara lebih  spesifik lagi ayat ini menggunakan kata “ikhwah”. Perlu diketahui bahwa kata “ikhwah” selalu digunakan untuk persaudaraan berdasarkan pertalian darah. Artinya betapa pentingnya persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) itu sehingga saudara seagama harus diperlakukan sebagai saudara kandung sendiri.

 

Imam Al ghazali Ketika menyebutkan ayat ini juga menegaskan bahwa orang yang beriman sajalah yang dapat memelihara persaudaraan dengan sesama kaum muslim. Hanya yang beriman yang bisa menumbuhkan rasa cinta kepada kaum muslim. Rasullullah menegaskan ayat ini dengan sabdanya: “Tidak beriman diantara kamu sebelum kamu mencintai saudaranya seperti kamu mencitai diri kamu sendiri.”

 

Khatib ingin mengakhiri khutbah ini dengan sebuah hadis yang dinukilkan oleh Imam Assayuti dalam kitabnya Ad Durr Almansur. Ketika sampai pada ayat yang mengatakan: “Jikalau Allah tidak menolak Sebagian manusia dengan sebagian yang lain niscaya rusaklah bumi ini, akan tetapi Allah mempunyai karunia yang dilimpahkan atas seluruh alam” (Al-baqarah 251),

 

Rasullullah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani: “Setiap masa ada orang yang sangat dekat dengan Allah, kalau salah seorang dari mereka diwafatkan maka Allah menggantikannya dengan  yang lain, begitulah orang itu selalu ada di tengah-tengah Masyarakat.”

 

Rasullullah mengatakan bahwa berkat kehadiran mereka Allah menyelamatkan suatu negeri dari  bencana. Karena merekalah Allah menurunkan hujan, karena mereka Allah menghidupkan tanam-tanaman dan karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan. Sehingga para sahabat bertanya kepada Rasullullah apa maksudmu karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan. Rasul menjawab: “Kalau mereka berdoa agar Allah memanjangkan umur seseorang maka Allah panjangkan umurnya. Kalau mereka berdoa agar orang zalim itu binasa maka Allah akan membinasakan mereka.” Kemudian Rasul bersabda orang ini mencapai derajat yang tinggi bukan karena banyak shalatnya, bukan karena banyak puasanya, bukan pula karena banyak ibadah hajinya, tetapi karena dua hal yaitu memiliki sifat kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesame kaum muslimin.

 

Sebagai catatan akhir khutbah ini,  khatib mencoba menyentuh hati kita semua, mari bersikap realistis dengan kondisi Aceh saat ini, meski damai Aceh telah 20 tahun kita menikmatinya, namun masih begitu banyak kendala dan hambatan di depan mata. Karenanya marilah kita membangun Aceh dengan argumen dengan memberikan kontribusi positif untuk kemajuan Aceh, hindari sikap dan sifat sentimen yaitu dengan menghilangkan keegoan dan kesombongan. Kuburkan sikap hipokrisme yaitu suatu tatanan hidup yang melanggar prinsip-prinsip agama dan kemanusiaan serta menghilangkan rasa cinta humanisme.

 

Semoga Allah SWT memberi tuntunan kepada kita melalui petunjukNya yang kemudian dinamakan agama agar kita dapat merawat damai Aceh dengan membumikan rasa cinta dan kasih sayang sesama. Allahu ‘Alam


Komentar

Tampilkan

  • Merawat Damai dengan Cinta
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”