-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

Wirid dan Warid dalam Perspektif Hikmah Ibnu Athaillah As-Sakandari

mrb
Friday, January 2, 2026, January 02, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T23:41:37Z

 


Oleh : Tgk. H. Mursalin Basyah, Lc., M.Ag.

Segala puji dan syukur hanya milik Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Tuhan Yang Maha Esa pada zat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya, tiada satu pun makhluk yang menyerupai-Nya. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau.

Dalam kajian tauhid dan tasawuf, Ibnu Athaillah As-Sakandari melalui hikmah ke-109 dalam Al-Hikam memberikan pelajaran mendalam tentang hakikat wirid dan warid, dua konsep penting dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.

Ibnu Athaillah menegaskan bahwa “Tidak ada yang meremehkan wirid kecuali orang yang jahil.” Wirid adalah seluruh bentuk ibadah yang dilakukan seorang hamba secara rutin, baik yang bersifat wajib maupun sunah. Salat, zikir, membaca Al-Qur’an, puasa, dan seluruh amal ketaatan yang dijaga secara istiqamah termasuk dalam makna wirid. Dengan demikian, wirid bukan sekadar zikir tertentu, melainkan keseluruhan penghambaan yang terus dijaga sepanjang hidup.

Sementara itu, warid adalah anugerah dan pemberian Allah kepada hamba-Nya. Warid berupa keistimewaan, cahaya dalam hati, ketenangan, kemuliaan, kedekatan dengan Allah, bahkan maqam tertentu dalam spiritualitas. Warid adalah sesuatu yang diharapkan dan diminta oleh hamba kepada Allah, dan puncak pemberiannya kelak berada di akhirat, meskipun sebagian bisa dirasakan di dunia.

Perbedaan mendasar antara keduanya adalah: wirid merupakan permintaan Allah kepada hamba-Nya, sedangkan warid merupakan permintaan hamba kepada Allah. Allah memerintahkan hamba untuk beribadah, sedangkan hamba berharap balasan, kenikmatan, kemudahan, atau keistimewaan dari ibadah tersebut.

Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa dalam praktik ibadah, banyak orang justru terbalik dalam memprioritaskan. Tidak sedikit yang beribadah dengan fokus mengejar warid, bukan menunaikan wirid. Ketika warid yang diharapkan belum datang—rezeki belum lapang, masalah belum selesai, hati belum merasakan kelezatan ibadah—maka semangat ibadah mulai melemah. Inilah bentuk ketergelinciran spiritual, karena ibadah dijadikan alat untuk memperoleh hasil, bukan sebagai wujud kepatuhan kepada Allah.

Padahal, seorang hamba sejati adalah yang tetap beribadah dalam segala keadaan: saat lapang maupun sempit, saat merasakan kelezatan maupun kehampaan. Perintah Allah jelas: “Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” Ibadah tidak boleh bergantung pada hasil duniawi, karena hakikatnya ibadah adalah tujuan, bukan sekadar sarana.

Ibnu Athaillah juga menegaskan bahwa ibadah hanya bisa dilakukan di dunia, sedangkan warid akan sempurna di akhirat. Dunia adalah satu-satunya kesempatan untuk sujud, salat, zikir, dan amal ketaatan. Di akhirat, tidak ada lagi ruang untuk menambah ibadah. Bahkan, kelak ada manusia yang ingin sujud tetapi tidak mampu, karena di dunia ia tidak pernah bersujud.

Oleh sebab itu, sesuatu yang tidak tergantikan dan tidak dapat diulang—yakni ibadah di dunia—harus lebih diutamakan daripada sesuatu yang pasti datang di akhirat, yaitu balasan dan anugerah Allah. Fokus utama seorang hamba adalah memenuhi permintaan Allah, bukan semata-mata menagih permintaannya sendiri.

Ibnu Athaillah juga mengingatkan bahaya meremehkan syariat lahiriah dengan alasan telah mencapai hakikat. Orang yang benar-benar sampai kepada Allah tidak akan meninggalkan salat, zikir, dan ibadah zahir. Para imam tasawuf, seperti Imam Junaid, justru semakin teguh memegang ibadah syariat meskipun telah mencapai maqam tinggi. Hakikat yang memutuskan syariat adalah kesesatan, bukan kedalaman spiritual.

Kesimpulannya, inti dari hikmah ini adalah istiqamah dalam ibadah hingga akhir hayat. Dapat atau tidak dapat hasil, terasa lezat atau terasa hambar, ibadah tetap dijaga. Seorang hamba sejati menyembah Allah karena Allah, bukan karena hadiah-Nya. Adapun warid, kemuliaan, dan balasan, semuanya akan Allah sempurnakan di akhirat dengan cara dan waktu yang paling adil dan penuh hikmah.

Berlelah-lelah di dunia dalam ketaatan, agar kelak menuai kebahagiaan yang abadi. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjaga wirid sampai akhir hayat dan husnuzan terhadap segala ketetapan-Nya. Wallahu a‘lam.
Komentar

Tampilkan

  • Wirid dan Warid dalam Perspektif Hikmah Ibnu Athaillah As-Sakandari
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”