Oleh : Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, M.A.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang telah memberi kita petunjuk kepada jalan kebenaran. Tanpa hidayah-Nya, manusia tidak akan mampu menemukan jalan lurus. Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya menjadi fondasi utama keimanan. Selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Hidup adalah anugerah yang sangat besar. Setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, bahkan pergantian tahun adalah kesempatan dari Allah untuk memperbanyak amal saleh dan memperbaiki kesalahan melalui tobat. Kesempatan ini tidak datang selamanya. Pada hari akhirat kelak, seluruh amal manusia akan ditimbang dengan sangat adil. Siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka baginya kebahagiaan dan surga. Sebaliknya, siapa yang ringan timbangan kebaikannya dan lebih banyak keburukan, maka ia berada dalam ancaman azab neraka. Karena itu, selama pintu tobat dan amal masih terbuka, manusia diperintahkan untuk memanfaatkannya demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Al-Qur’an mengingatkan tentang orang-orang yang paling merugi, yaitu mereka yang sia-sia amal perbuatannya di dunia, padahal mereka merasa telah berbuat kebaikan. Amal tersebut menjadi sia-sia karena tidak dibangun di atas petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, meskipun tampak baik menurut penilaian manusia, tidak memiliki nilai di sisi-Nya.
Al-Qur’an menggunakan kata dalla (sesat) dengan beragam makna sesuai konteksnya. Ada kesesatan yang berarti kekafiran, ada yang berarti menyimpang dari perintah Allah, ada pula yang bermakna lupa, atau bahkan bermakna hancur dan lenyap. Semua ini menunjukkan betapa pentingnya memahami Al-Qur’an secara utuh dan kontekstual, bukan secara serampangan.
Salah satu bentuk kesesatan adalah ketika seseorang menolak ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Seorang mukmin sejati, baik laki-laki maupun perempuan, tidak memiliki pilihan lain ketika Allah dan Rasul telah menetapkan suatu perkara. Kisah Zainab binti Jahsy yang pada awalnya menolak ketentuan Rasulullah ﷺ, namun akhirnya tunduk setelah turun ayat Al-Qur’an, menjadi pelajaran penting tentang ketaatan dan kepatuhan terhadap kehendak Allah. Sikap tunduk ini juga tercermin dalam kehidupan sosial, seperti ketika seseorang diminta membantu sesama yang tertimpa musibah, maka seharusnya ia memberi sesuai kemampuan, bukan menolak tanpa alasan yang dibenarkan.
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa orang-orang kafir meragukan kebangkitan setelah mati. Mereka menganggap mustahil Allah menghidupkan kembali tubuh yang telah hancur di dalam tanah. Padahal, Allah menciptakan manusia dari ketiadaan, sehingga membangkitkan kembali manusia dari sisa tulang belulang jauh lebih mudah bagi-Nya. Keraguan terhadap kebangkitan adalah bagian dari kekafiran terhadap kekuasaan Allah.
Selain itu, Al-Qur’an mengatur kehidupan manusia secara rinci, termasuk dalam urusan muamalah seperti utang-piutang, persaksian, dan hukum sosial. Semua ketentuan ini bertujuan menjaga keadilan dan kemaslahatan. Mengingkari atau meremehkan hukum-hukum Allah berarti membuka pintu penyimpangan yang berbahaya bagi iman.
Al-Qur’an juga mengecam keras orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah (Al-Qur’an dan hadis), ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta), ayat hukum, maupun ayat-ayat mukjizat. Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ seperti Isra dan Mikraj adalah kebenaran yang wajib diimani. Menolaknya berarti mendustakan firman Allah secara langsung.
Bentuk kekafiran yang lain adalah memperolok-olok agama, ayat-ayat Allah, dan para rasul. Sejarah mencatat bagaimana Nabi Muhammad ﷺ dituduh sebagai pendusta, tukang cerita, bahkan orang gila. Mereka juga melarang umat Islam bersedekah dan membantu kaum fakir. Semua sikap ini menjadi sebab mereka mendapatkan balasan neraka Jahanam. Karena itu, kaum beriman diingatkan agar tidak ikut-ikutan meremehkan syariat, ibadah, atau aktivitas keagamaan, meskipun dicemooh oleh orang lain.
Sebaliknya, Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan membuktikan imannya dengan amal saleh. Mereka adalah orang-orang yang menjawab panggilan salat, berjamaah di masjid, bersedekah, dan menjaga ketaatan. Bagi mereka disediakan Surga Firdaus sebagai tempat tinggal yang abadi. Surga Firdaus adalah surga tertinggi, di atasnya terdapat Arasy Allah, dan darinya mengalir sungai-sungai surga.
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar umatnya tidak meminta surga secara sembarangan, tetapi memohon yang paling tinggi, yaitu Surga Firdaus. Meskipun amal manusia terasa sedikit dan penuh kekurangan, kemurahan dan rahmat Allah jauh lebih luas. Dengan iman, amal saleh, dan doa yang tulus, seorang hamba berharap dimasukkan Allah ke dalam surga tertinggi.
Kesimpulannya, jalan keselamatan adalah beriman dengan benar, mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, menjauhi sikap mengingkari dan memperolok agama, serta memperbanyak amal saleh selama hayat masih dikandung badan. Semoga Allah menerima amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menganugerahkan kepada kita semua Surga Firdaus. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

.jpg)

.jpg)

