![]() |
| Abu Paya Pasi (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman) |
Tauhid Ahlussunnah wal Jamaah: Menjaga Kemurnian Aqidah dari Penyimpangan
Allah bersifat Wujud. Allah SWT Wajib Ada,
sementara manusia boleh ada dan boleh tiada. Dalam surah At-Thariq ayat 5–7,
Allah berfirman: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa
dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara
tulang sulbi dan tulang dada.”
Dari sulbi Nabi Adam dipindahkan ke rahim Siti
Hawa. Dari setetes air itulah Allah melahirkan keturunan nabi adam hingga memenuhi bumi.
Demikian pula kita, berasal dari sulbi ayah, lalu Allah memindahkan ke rahim
ibu. Dari air setitik itu Allah membentuk seluruh anggota tubuh: rambut, kulit,
hingga organ tubuh yang sempurna.
Allah dalam Asmaul Husna disebut Al-Khaliq
(Maha Pencipta). Penciptaan Allah tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun.
Allah juga Al-Badi‘,
yang menciptakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya. Allah menciptakan langit,
bumi, dan Nabi Adam tanpa ada bandingan. Maka dalam tauhid Ahlussunnah wal
Jamaah, kita mengenal sifat-sifat Allah, yang dalam ilmu tauhid dikenal dengan
50 sifat wajib, termasuk Qadha dan Qadar.
Allah SWT bersifat Sami‘ (Maha Mendengar). Kita pun
bisa mendengar, tetapi terbatas. Kita hanya mampu mendengar suara lahir,
sedangkan suara hati tidak. Sementara Allah mendengar segala sesuatu: ucapan
manusia, doa malaikat, bisikan jin, suara binatang, hingga seluruh keadaan alam
semesta. Inilah perbedaan mendasar antara sifat Allah dan sifat makhluk.
Bahaya Penyimpangan Aqidah
Tauhid Ahlussunnah wal Jamaah adalah landasan
iman. Namun, ada aliran yang menyimpang dari aqidah ini, seperti paham wahdatul
wujud, yang menyamakan makhluk dengan Allah. Padahal Allah
menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS.
An-Nisa: 48)
Kaum Nasrani, misalnya, menyekutukan Allah
dengan menganggap ada tiga tuhan: Allah, Maryam, dan Isa. Kaum Yahudi menyebut
Uzair sebagai anak Allah. Sementara dalam wahdatul wujud, ada yang
berkeyakinan Nabi Muhammad itu Allah. Semua ini adalah syirik, dan syirik tidak
akan diampuni Allah.
Demikian juga aliran Ahmadiyah Qadian. Mereka
tetap shalat dan bersedekah, namun keyakinannya sesat karena mengangkat Mirza
Ghulam Ahmad sebagai nabi ke-26. Padahal Allah berfirman:
“…Muhammad adalah penutup para nabi.” (QS.
Al-Ahzab: 40)
Rasulullah SAW juga menegaskan: “Aku
adalah nabi terakhir, tidak ada nabi setelahku.”
Maka siapa pun yang meyakini adanya nabi setelah Nabi Muhammad, berarti
menyalahi rukun iman, merusak dua kalimat syahadat, dan keluar dari aqidah
Islam yang benar.
Di Aceh, ada aliran sesat bernama Millah Abraham.
Mereka berpedoman semua nabi membawa agama Allah yang sama tanpa perbedaan. Sehingga
menyamakan seluruh syariat tanpa membedakan ketentuan yang Allah tetapkan.
Tauhid Tetap, Syariat Bisa Berubah
Dalam Islam, ada tiga hal: Tauhid, Tasawuf, dan Furu‘ (Syariat). Tauhid dan tasawuf tetap sama dari zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, sedangkan furu‘ (hukum syariat) bisa berbeda sesuai zaman.
Pada masa Nabi Adam, pernikahan saudara kandung diperbolehkan karena belum ada manusia lain. Pada masa Nabi Ya‘qub, menikah dengan dua saudara perempuan sekaligus dibolehkan, lalu diharamkan setelahnya. contoh lainnya Kiblat dahulu menghadap Baitul Maqdis, kemudian dipindahkan ke Ka‘bah di Makkah.
Semua perubahan ini adalah ketetapan Allah. jadi untuk kita ada yang di mensoskan syariat yang
dulu atau di masa rasulullah itu sendiri, sehingga dapat di simpulkan furu’nya
saja yang ditukar-tukar oleh Allah SWT. Maka tidak benar jika ada yang mencoba
mengembalikan syariat lama seperti boleh menikah dengan dua saudara perempuan dan
lainnya sebagaimana yang dipahami oleh aliran sesat Millah Abraham.

.jpg)

.jpg)

