-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

“Surah Ad-Dhuha: Penghiburan Ilahi, Peneguhan Niat, dan Tuntunan Akhlak”

mrb
Sunday, January 18, 2026, January 18, 2026 WIB Last Updated 2026-01-18T08:58:44Z

 


Oleh : Tgk. H. Tamlicha Hasan, Lc. 

Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang senantiasa menerangi hati hamba-hamba-Nya dengan cahaya Al-Qur’an, memperbaiki hubungan antar manusia, dan meluruskan muamalah dalam kehidupan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, imam para mufassir, pemimpin para muhadditsin, hujjah para fuqaha, serta teladan bagi para wali dan orang-orang saleh. Dengan memohon pertolongan Allah, majelis ilmu ini diharapkan menjadi majelis fikih, tadabbur ayat-ayat Allah, dan sebab bertambahnya amal kebajikan di akhirat.


Dalam lanjutan pembahasan keutamaan surah-surah Al-Qur’an, setelah sebelumnya dibahas Surah Al-Fath, pada kesempatan ini perhatian diarahkan kepada Surah Ad-Dhuha, surah yang sangat akrab dan dihafal oleh mayoritas kaum muslimin. Surah ini terdiri dari sebelas ayat dan mengandung penjelasan yang mendalam tentang sumpah Allah, keadaan Rasulullah ﷺ, serta tuntunan akhlak bagi umatnya. Surah Ad-Dhuha termasuk surah Makkiyah, yakni surah yang diturunkan sebelum Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, meskipun tempat turunnya bisa di sekitar Makkah dan sekitarnya. Surah ini diturunkan setelah Surah Al-Lail dan dalam susunan mushaf berada pada urutan ke-93.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā membuka Surah Ad-Dhuha dengan sumpah-Nya, “Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi” (QS. Ad-Dhuha: 1–2). Waktu dhuha dipahami sebagai waktu pagi ketika matahari telah naik pada posisi penggalahan, saat manusia mulai beraktivitas dan menggerakkan kehidupan. Sementara malam yang sunyi menggambarkan kesunyian, keheningan, dan kegelisahan batin. Sumpah ini mencakup dua keadaan waktu yang berlawanan, siang dan malam, sebagai isyarat bahwa dalam segala kondisi, perhatian Allah kepada hamba-Nya tidak pernah terputus.

Surah ini diturunkan ketika Rasulullah ﷺ berada dalam kesedihan mendalam akibat terhentinya wahyu selama beberapa hari. Orang-orang kafir memanfaatkan keadaan tersebut dengan melontarkan tuduhan bahwa Allah telah meninggalkan dan membenci Nabi Muhammad ﷺ. Untuk membantah tuduhan itu, Allah menegaskan, “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu” (QS. Ad-Dhuha: 3). Dalam ayat ini terdapat kehalusan bahasa Al-Qur’an yang sangat tinggi. Kata wadda‘a (meninggalkan dengan perpisahan penuh kasih) disebutkan dengan objeknya, sedangkan kata qala (membenci dengan kebencian yang keras) tidak disebutkan objeknya. Hal ini mengandung rahasia kemuliaan bagi Rasulullah ﷺ, seakan-akan tidak pantas menyandarkan kebencian kepada beliau, bahkan dalam struktur bahasa sekalipun.

Allah kemudian menghibur Rasulullah ﷺ dengan janji masa depan yang lebih baik, “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan, dan sungguh Tuhanmu pasti akan memberikan kepadamu sehingga engkau ridha” (QS. Ad-Dhuha: 4–5). Ayat ini menegaskan bahwa kesulitan yang dialami seorang hamba tidak bersifat abadi, dan bahwa pertolongan serta karunia Allah akan datang pada waktu yang paling tepat.

Selanjutnya Allah mengingatkan Nabi Muhammad ﷺ tentang nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim lalu Dia melindungimu, Dia mendapatimu bingung lalu Dia memberi petunjuk, dan Dia mendapatimu kekurangan lalu Dia memberi kecukupan” (QS. Ad-Dhuha: 6–8). Pengingatan terhadap nikmat masa lalu ini menjadi peneguh hati, bahwa Allah yang pernah menolong, melindungi, dan mencukupi, tidak mungkin meninggalkan hamba-Nya di kemudian hari.

Sebagai konsekuensi dari nikmat tersebut, Allah memberikan tuntunan akhlak, “Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta janganlah engkau menghardik” (QS. Ad-Dhuha: 9–10). Ibadah dan kedekatan kepada Allah harus tercermin dalam sikap sosial, terutama kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Surah ini ditutup dengan perintah untuk mensyukuri nikmat, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah” (QS. Ad-Dhuha: 11), yakni dengan menyebut nikmat sebagai bentuk syukur dan pengakuan atas karunia Allah.

Kata qala yang bermakna membenci juga ditemukan dalam Al-Qur’an pada kisah Nabi Luth ‘alaihis salam, ketika beliau berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang membenci perbuatan kalian” (QS. Asy-Syu‘ara: 168). Kebencian tersebut bukan ditujukan kepada pribadi, melainkan kepada perbuatan maksiat yang menyimpang dari fitrah. Perbandingan ini semakin menegaskan bahwa Allah sama sekali tidak membenci Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ad-Dhuha.

Dalam khazanah para ulama dan orang-orang saleh, Surah Ad-Dhuha dikenal sebagai salah satu pintu pembuka kebajikan. Imam Al-Ghazali rahimahullah menukil dari sebagian salaf bahwa mereka membiasakan membaca Surah Ad-Dhuha secara berulang, terutama ketika kehilangan sesuatu, baik harta, barang, kedudukan, maupun kemuliaan. Dengan membacanya disertai tawakkal dan doa, banyak di antara mereka yang Allah kembalikan apa yang hilang atau digantikan dengan yang lebih baik.

Para ulama juga menyebutkan amalan membaca Surah Ad-Dhuha dalam salat dhuha dan memperbanyaknya dengan doa, sebagai bentuk pengakuan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah. Hal ini sejalan dengan firman Allah, “Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan langit dan bumi” (QS. Az-Zumar: 63; QS. Asy-Syura: 12). Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai dengan hikmah dan pengetahuan-Nya yang sempurna.

Dengan demikian, Surah Ad-Dhuha bukan sekadar surah yang dihafal, tetapi surah yang mengajarkan keteguhan iman, penghiburan di saat ujian, adab dalam bermuamalah, serta keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Surah ini menjadi pengingat bahwa setiap kesedihan memiliki akhir, setiap kehilangan berada dalam genggaman Allah, dan setiap nikmat menuntut rasa syukur dan akhlak yang mulia.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Komentar

Tampilkan

  • “Surah Ad-Dhuha: Penghiburan Ilahi, Peneguhan Niat, dan Tuntunan Akhlak”
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”