
![]() |
Abu H. Muhammad Ali (Abu Paya Pasi) (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman) |
Janji Abadi Manusia Kepada Allah SWT.
Mari kita bertakwa kepada Allah SWT. Dengan
bertakwa, seseorang akan menjadi pribadi yang terhormat di dunia, serta
memperoleh kemenangan hakiki di akhirat, yakni masuk ke dalam surga-Nya yang
abadi.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Sayyidina Umar
bin Khattab RA hendak melaksanakan tawaf. Sebelum beliau memulai tawaf,
terlebih dahulu beliau mencium Hajar Aswad. Setelah berjalan dua langkah,
beliau berkata:
"Wahai Hajar Aswad, engkau hanyalah
sebuah batu. Engkau tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula dapat
mendatangkan mudarat. Aku hanya menciummu karena aku melihat Rasulullah SAW
melakukannya. Sekiranya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, sungguh aku
tidak akan menciummu."
Kemudian Sayyidina Umar berpaling ke arah
Sayyidina Ali dan bertanya: “Wahai Abu Hasan, bagaimana pendapatmu tentang
apa yang aku lakukan dan aku ucapkan tadi?”
Sayyidina Ali RA menjawab: “Wahai Amirul
Mukminin, ketahuilah bahwa Hajar Aswad itu memang dapat memberi manfaat maupun
mudarat, karena di dalamnya tersimpan perjanjian agung antara Allah SWT dengan
hamba-hamba-Nya.”
Beliau kemudian menjelaskan bahwa saat Allah SWT
menciptakan manusia, ruh lebih dahulu ada sebelum jasad Nabi Adam AS
diciptakan. Ketika Nabi Adam diciptakan, seluruh ruh manusia —termasuk nur
Rasulullah SAW— telah dimasukkan ke dalam dirinya. Setelah itu, manusia
diturunkan ke dunia lengkap dengan akal, hati, dan fitrahnya.
Pada saat itu, Allah SWT bertanya kepada seluruh
ruh manusia, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-A’raf ayat 172:
"Alastu bi Rabbikum?"
(Bukankah Aku ini Tuhanmu?)
Maka seluruh ruh menjawab: "Qâlû balâ
syahidnâ." (Benar, kami bersaksi bahwa Engkaulah Tuhan kami.)
Itulah ikrar agung antara manusia dengan Allah
SWT. Manusia berjanji untuk tunduk dan taat, melaksanakan segala perintah-Nya
serta menjauhi larangan-Nya. Allah SWT kemudian menegaskan kembali perjanjian
itu dalam QS. Al-Baqarah ayat 82:
"Dan orang-orang yang beriman serta
beramal saleh, mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya."
Namun, Allah juga mengingatkan dalam QS.
Al-Baqarah ayat 39:
"Dan orang-orang yang kafir serta
mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya."
Dengan demikian, hidup kita di dunia hanyalah
sementara. Kita akan melalui tujuh alam: alam dzuriyat (ketika ruh masih
bersama Allah), alam sulbi (ayah), alam rahim (ibu), alam dunia (tempat ujian),
alam barzakh, alam mahsyar, hingga alam kekekalan, yaitu surga atau neraka. Di
dunia inilah penentu masa depan kita.
Apabila kita setia pada janji dengan Allah, maka
balasannya adalah surga. Namun jika kita mengingkarinya, maka ancamannya adalah
neraka. Karena itu, kita harus benar-benar menegakkan lima rukun Islam:
mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa
Ramadan, dan menunaikan haji. Kita juga harus menguatkan enam rukun iman:
beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari
kiamat, serta qadha dan qadar.
Perhatikanlah, dalam sehari semalam 24 jam, waktu
yang kita gunakan untuk salat lima waktu hanya sekitar satu jam. Sangat singkat
dibandingkan balasan yang dijanjikan Allah. Sebab di sisi Allah, satu hari di
akhirat setara dengan seribu tahun di dunia (QS. Al-Ma’arij: 4). Bahkan bagi
orang yang ingkar dan masuk neraka, satu hari di dalamnya setara dengan lima
puluh ribu tahun. Naudzubillah min dzalik.
Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Ia
mengetahui yang lahir dan yang tersembunyi dalam hati manusia (QS. Al-Hadid: 6,
QS. Al-An’am: 3, QS. Al-Mulk: 14). Allah Maha Halus lagi Maha Teliti, Maha
Mengawasi (Raqib), Maha Menyaksikan (Syahid), dan Maha Adil (Hakim). Karena
itu, setiap manusia senantiasa diawasi oleh empat malaikat yang mencatat amal
perbuatannya. Ketika seseorang meninggal dunia, catatan itu akan dibawa untuk
diperlihatkan di hari kiamat.
Orang beriman dan taat akan menerima catatan amal
dari tangan kanannya, lalu dihisab dengan hisab yang ringan (QS. Al-Insyiqaq:
7–8). Sebaliknya, orang yang ingkar akan menerima catatannya dari belakang
dengan tangan kiri, lalu diseret ke dalam neraka (QS. Al-Insyiqaq: 10–12).
Di hari kiamat, tidak ada lagi kebohongan yang
bisa disembunyikan. Allah akan mengunci mulut manusia, dan anggota tubuhnya
—tangan, kaki, mata, telinga, bahkan kulit— akan bersaksi atas segala amal yang
dilakukan di dunia (QS. Yasin: 65, QS. Fussilat: 20). Anggota tubuh yang dahulu
sering kita gunakan, kelak akan menjadi saksi yang tidak bisa kita bantah.
Itulah ilmu Allah SWT, yang meliputi segala
sesuatu. Manusia tidak bisa lari dari pengawasan-Nya. Maka marilah kita
memperbaiki diri sebelum terlambat. Jika kita pernah berbuat salah, hendaklah
segera bertaubat, karena Allah Maha Pengampun. Jangan menunggu hingga datang
penyesalan di hari ketika semua amal perbuatan ditampakkan.
Semoga kita menjadi hamba-hamba yang senantiasa menjaga janji dengan Allah, berpegang teguh pada iman, menegakkan amal saleh, dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh rahmat.