-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

Dakwah Rasulullah di Madinah

mrb
Friday, September 26, 2025, September 26, 2025 WIB Last Updated 2025-09-26T07:03:17Z

 

Tgk H. M. Iqbal Jalil, S.Ag.,M.Ag
(Muhadhir Ma'had Aly MUDI MESRA Samalanga)


Oleh : Tgk H. M. Iqbal Jalil, S.Ag.,M.Ag



Dakwah Rasulullah di Madinah

Jama'ah Jumat rahimakumullāh!

Dipilihnya Madinah sebagai tempat baru keberlanjutan dakwah dan tujuan hijrahnya Rasulullah menyimpan hikmah yang agung. Beliau tidak dibiarkan hidup di Mekah hingga akhir hayatnya. Itu untuk menegaskan bahwa kemuliaan Nabi bukan disebabkan oleh tempat, tetapi justru tempatlah yang menjadi mulia karena kehadiran beliau. Mekah mulia jauh sebelum Rasulullah lahir. Demikian juga Palestina, sejak lama ia telah menjadi negeri para nabi. Karena itu, Allah memilih Yasrib, kota yang dulunya dikenal penuh penyakit untuk menjadi tanah hijrah. Yasrib bermakna yahlik yang berarti “tempat yang membinasakan”.

 

Dengan doa Rasulullah , wabah itu dipindahkan ke Juhfah, dan Yasrib berganti nama: Thayyibah, Thabah, Al-Dar, dan Al-Madinah al-Munawwarah. Dari tanah yang sebelumnya getir, lahirlah cahaya yang menerangi dunia.

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah!

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tidak hanya berpindah tempat, tetapi mendirikan sebuah peradaban. Cara beliau membangun Madinah menjadi teladan abadi bagaimana sebuah masyarakat Islam ditegakkan. Dan inilah strategi agung Rasulullah :

 

Pertama, membangun masjid. Masjid Nabawi berdiri dengan kesederhanaan: dinding tanah, atap pelepah kurma, namun dari situlah bangkit peradaban besar. Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi pusat persatuan, pusat ilmu, pusat musyawarah, bahkan pusat politik. Di masjid tidak ada strata, semua sama di hadapan Allah. Inilah makna sejati rumah Allah, tempat persaudaraan hakiki.

 

Allah berfirman:

﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ﴾

(Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang) [QS. An-Nur: 36].

 

Kedua, membangun persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan ini bukan hanya slogan, melainkan pengorbanan nyata. Kaum Anshar rela berbagi rumah, harta, bahkan lebih mendahulukan saudara mereka meski diri sendiri kekurangan. Allah menegaskan:

 

﴿وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ﴾

(Mereka mengutamakan orang lain di atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga dalam kesusahan) [QS. Al-Hasyr: 9].

 

Inilah ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya, lahir dari iman yang kokoh, bukan dari kepentingan sesaat.

 

Ketiga, membangun kesepakatan damai melalui Piagam Madinah. Rasulullah hidup di tengah masyarakat majemuk. Ada Islam, Yahudi, Nasrani, dan berbagai kabilah. Beliau tidak ingin perbedaan menjadi sumber perpecahan dan kehancuran. Dengan Piagam Madinah, semua kabilah memiliki hak dan kewajiban, saling menjaga, saling melindungi, tidak boleh saling mengganggu. Inilah konstitusi pertama di dunia yang melahirkan keadilan di tengah keragaman.

 

Keempat, membangun pasar. Rasulullah tidak ingin perekonomian Madinah dikendalikan pihak luar. Jika suplai barang bisa diputus kapan saja, maka umat Islam akan menderita. Karena itu Rasulullah mendirikan pasar sendiri, diatur dengan keadilan, bebas dari monopoli dan riba. Pasar itu menjadi urat nadi kemandirian umat Islam.

 

Rasulullah bersabda:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

(Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada) [HR. Tirmidzi].

 

Maka Madinah berdiri bukan hanya dengan syiar agama, tetapi dengan kekuatan masjid, kekuatan ukhuwah, kekuatan konstitusi, dan kekuatan ekonomi.

 

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Demikianlah strategi Rasulullah membangun Madinah, bukan sekadar kota, tetapi sebuah peradaban yang tegak di atas iman, persaudaraan, kemandirian, dan persatuan. Maka mari kita renungkan, bagaimana dengan negeri kita hari ini? Apakah kita sudah meneladani jejak langkah Rasulullah dalam menegakkan persaudaraan, membangun ekonomi yang mandiri, dan menjadikan masjid sebagai pusat persatuan umat?

 

Apakah kita sudah mewarisi jiwa Muhajirin dan Anshar yang rela berbagi meski diri mereka pun dalam kekurangan? Ataukah kita justru sibuk berebut kepentingan dunia, hingga melupakan ukhuwah dan menjerumuskan diri dalam perpecahan?

 

Wahai kaum muslimin, jika Madinah bisa bangkit menjadi cahaya dunia karena iman dan persaudaraan, maka Aceh pun akan mampu bangkit kembali jika kita tegakkan nilai yang sama. Jangan biarkan hati kita kering dari tarbiyah, jangan biarkan persaudaraan kita retak oleh nafsu, dan jangan biarkan negeri kita lemah karena dikendalikan oleh tangan-tangan asing.

 

Jamaah Jumat rahimakumullāh,

Aceh telah Allah beri anugerah besar: yaitu kebebasan menjalankan syariat Islam sebagai lex specialis atau kekhususan yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Tapi anugerah ini tidak boleh berhenti pada formalitas dan seremonial. Ia harus dibangun di atas strategi yang sama seperti Madinah.

 

Jadikan masjid benar-benar pusat persatuan, bukan sekadar tempat ritual. Hidupkan ukhuwah, jangan biarkan politik dan kepentingan dunia merobek persaudaraan kita. Jadikan hukum Islam sebagai sumber keadilan dan kedamaian, bukan ketakutan. Dan jadikan ekonomi Islam sebagai benteng kesejahteraan rakyat, agar Aceh tidak tergantung pada pihak luar.

Semoga Aceh benar-benar akan memantulkan cahaya syariat, menghadirkan rahmat, dan menjadi teladan bagi dunia Islam.

Komentar

Tampilkan

  • Dakwah Rasulullah di Madinah
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”