![]() |
| Tgk H. M. Iqbal Jalil, S.Ag.,M.Ag (Muhadhir Ma'had Aly MUDI MESRA Samalanga) |
Oleh : Tgk H. M. Iqbal Jalil, S.Ag.,M.Ag
Jama'ah Jumat rahimakumullāh!
Dipilihnya Madinah sebagai tempat baru
keberlanjutan dakwah dan tujuan hijrahnya Rasulullah ﷺ menyimpan hikmah yang agung. Beliau tidak
dibiarkan hidup di Mekah hingga akhir hayatnya. Itu untuk menegaskan bahwa
kemuliaan Nabi ﷺ
bukan disebabkan oleh tempat, tetapi justru tempatlah yang menjadi mulia karena
kehadiran beliau. Mekah mulia jauh sebelum Rasulullah ﷺ lahir. Demikian juga Palestina, sejak lama
ia telah menjadi negeri para nabi. Karena itu, Allah memilih Yasrib, kota yang
dulunya dikenal penuh penyakit untuk menjadi tanah hijrah. Yasrib bermakna
yahlik yang berarti “tempat yang membinasakan”.
Dengan doa Rasulullah ﷺ, wabah itu dipindahkan ke
Juhfah, dan Yasrib berganti nama: Thayyibah, Thabah, Al-Dar,
dan Al-Madinah al-Munawwarah. Dari tanah yang sebelumnya getir, lahirlah
cahaya yang menerangi dunia.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah!
Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau tidak hanya
berpindah tempat, tetapi mendirikan sebuah peradaban. Cara beliau membangun
Madinah menjadi teladan abadi bagaimana sebuah masyarakat Islam ditegakkan. Dan
inilah strategi agung Rasulullah ﷺ:
Pertama,
membangun masjid. Masjid Nabawi berdiri dengan kesederhanaan: dinding tanah,
atap pelepah kurma, namun dari situlah bangkit peradaban besar. Masjid bukan
hanya tempat sujud, tetapi pusat persatuan, pusat ilmu, pusat musyawarah,
bahkan pusat politik. Di masjid tidak ada strata, semua sama di hadapan Allah.
Inilah makna sejati rumah Allah, tempat persaudaraan hakiki.
Allah berfirman:
﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا
اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ﴾
(Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk
ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbihlah kepada-Nya pada
waktu pagi dan petang) [QS. An-Nur: 36].
Kedua,
membangun persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan ini bukan
hanya slogan, melainkan pengorbanan nyata. Kaum Anshar rela berbagi rumah,
harta, bahkan lebih mendahulukan saudara mereka meski diri sendiri kekurangan.
Allah menegaskan:
﴿وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ﴾
(Mereka mengutamakan orang lain di atas
diri mereka sendiri, meskipun mereka juga dalam kesusahan) [QS. Al-Hasyr: 9].
Inilah ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya,
lahir dari iman yang kokoh, bukan dari kepentingan sesaat.
Ketiga,
membangun kesepakatan damai melalui Piagam Madinah. Rasulullah ﷺ hidup di tengah
masyarakat majemuk. Ada Islam, Yahudi, Nasrani, dan berbagai kabilah. Beliau
tidak ingin perbedaan menjadi sumber perpecahan dan kehancuran. Dengan Piagam
Madinah, semua kabilah memiliki hak dan kewajiban, saling menjaga, saling
melindungi, tidak boleh saling mengganggu. Inilah konstitusi pertama di dunia
yang melahirkan keadilan di tengah keragaman.
Keempat,
membangun pasar. Rasulullah ﷺ tidak ingin perekonomian Madinah dikendalikan pihak luar. Jika
suplai barang bisa diputus kapan saja, maka umat Islam akan menderita. Karena
itu Rasulullah ﷺ
mendirikan pasar sendiri, diatur dengan keadilan, bebas dari monopoli dan riba.
Pasar itu menjadi urat nadi kemandirian umat Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّاجِرُ
الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
(Pedagang yang jujur dan amanah akan
bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada) [HR. Tirmidzi].
Maka Madinah berdiri bukan hanya dengan
syiar agama, tetapi dengan kekuatan masjid, kekuatan ukhuwah, kekuatan
konstitusi, dan kekuatan ekonomi.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Demikianlah strategi Rasulullah ﷺ membangun Madinah, bukan
sekadar kota, tetapi sebuah peradaban yang tegak di atas iman, persaudaraan,
kemandirian, dan persatuan. Maka mari kita renungkan, bagaimana dengan negeri
kita hari ini? Apakah kita sudah meneladani jejak langkah Rasulullah ﷺ dalam menegakkan
persaudaraan, membangun ekonomi yang mandiri, dan menjadikan masjid sebagai
pusat persatuan umat?
Apakah kita sudah mewarisi jiwa Muhajirin
dan Anshar yang rela berbagi meski diri mereka pun dalam kekurangan? Ataukah
kita justru sibuk berebut kepentingan dunia, hingga melupakan ukhuwah dan
menjerumuskan diri dalam perpecahan?
Wahai kaum muslimin, jika Madinah bisa
bangkit menjadi cahaya dunia karena iman dan persaudaraan, maka Aceh pun akan
mampu bangkit kembali jika kita tegakkan nilai yang sama. Jangan biarkan hati
kita kering dari tarbiyah, jangan biarkan persaudaraan kita retak oleh nafsu,
dan jangan biarkan negeri kita lemah karena dikendalikan oleh tangan-tangan
asing.
Jamaah Jumat rahimakumullāh,
Aceh telah Allah beri anugerah besar: yaitu
kebebasan menjalankan syariat Islam sebagai lex specialis atau
kekhususan yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Tapi anugerah ini
tidak boleh berhenti pada formalitas dan seremonial. Ia harus dibangun di atas
strategi yang sama seperti Madinah.
Jadikan masjid benar-benar pusat persatuan,
bukan sekadar tempat ritual. Hidupkan ukhuwah, jangan biarkan politik dan
kepentingan dunia merobek persaudaraan kita. Jadikan hukum Islam sebagai sumber
keadilan dan kedamaian, bukan ketakutan. Dan jadikan ekonomi Islam sebagai
benteng kesejahteraan rakyat, agar Aceh tidak tergantung pada pihak luar.
Semoga Aceh benar-benar akan memantulkan cahaya syariat, menghadirkan rahmat, dan menjadi teladan bagi dunia Islam.

.jpg)

.jpg)

