-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

Mengikis Perundungan, Menumbuhkan Kasih Sayang dalam Dunia Pendidikan

mrb
Thursday, November 20, 2025, November 20, 2025 WIB Last Updated 2025-11-21T07:10:15Z

 

Prof. Dr. Ali Abubakar, M.Ag
(Khatib Masjid Raya Baiturrahman)

Oleh : Prof. Dr. Ali abubakar, M.Ag
Khatib di MRB tanggal 21 November 2025


Mengikis Perundungan, Menumbuhkan Kasih Sayang dalam Dunia Pendidikan


Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan inilah bekal utama untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.


Hadirin Rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini, perkenankan khatib mengajak kita semua untuk merenungkan sebuah fenomena yang semakin marak dan memprihatinkan dalam dunia pendidikan kita, termasuk di lingkungan pesantren. Fenomena itu adalah perundungan atau bullying.


Perundungan adalah tindakan kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikologis, yang dilakukan secara berulang oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat terhadap korban yang lebih lemah. Akibatnya sungguh menghancurkan. Jiwa anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan percaya diri, menjadi ciut, penuh trauma, dan terluka. Masa depan mereka bisa suram karena prestasi akademik menurun, bahkan ada yang sampai putus sekolah. Tidak jarang, korban membawa luka batin ini hingga dewasa. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi taman yang mencerdaskan dan menyenangkan, berubah menjadi ladang ketakutan dan penderitaan.


Peristiwa terbaru, beberapa minggu lalu ada mahasiswa yang bunuh diri, ada siswa yang meledakkan sekolahnya, ada santri yang membakar pesantrennya karena tidak tahan dengan perundungan yang selalu dihadapinya. Ini bukanlah peristiwa baru di Negara kita tercinta ini.  Ini juga bukan peristiwa asing di provinsi Syariat Islam ini. Cukup banyak peristiwa perundungan di lembaga pendidikan di Aceh ini, tetapi sering tidak tampak di permukaan.


Lalu, apa sebenarnya akar dari masalah ini?


Pertama, hilangnya rasa hormat dan empati. Pelaku bullying seringkali tidak mampu merasakan penderitaan orang lain. Hatinya keras, jiwa kosong dari kasih sayang.


Kedua, lingkungan yang permisif. Terkadang, tindakan ini dianggap sebagai hal yang wajar, bagian dari "proses pendewasaan", sehingga dibiarkan berlarut-larut tanpa ada intervensi yang serius dari pihak pengasuh, guru, atau bahkan sesama santri.


Ketiga, pengaruh negatif pergaulan dan media. Tontonan dan interaksi di media sosial yang penuh dengan kekerasan verbal dapat menurunkan sensitivitas anak terhadap rasa sakit orang lain.


Keempat, keinginan untuk merasa berkuasa dan diakui. Pelaku seringkali mencari pengakuan dengan cara menindas yang lemah, sebuah bentuk inferiority complex yang disalurkan secara keliru.


Jamaah Jumat yang Berbahagia,
Islam sebagai agama yang sempurna (kāffah) sangat memandang serius persoalan ini. Islam datang bukan hanya untuk menyembah Allah, tetapi juga untuk memuliakan manusia dan mengatur interaksi sosial dengan indah.


Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ


Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)


Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada kekuatan fisik, ketampanan, kekayaan, atau latar belakangnya. Kemuliaan hanya dinilai dari ketakwaan. Setiap manusia, apapun keadaannya, memiliki martabat yang harus dihormati.


Rasulullah SAW juga bersabda:


لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


Artinya: "Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)


Inilah prinsip emas yang mampu memberangus bibit-bibit perundungan. Seorang mukmin sejati tidak akan mungkin menyakiti, menghina, atau menindas saudaranya, karena dia menginginkan kebaikan yang sama untuk orang lain sebagaimana untuk dirinya sendiri.


Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Menyadari bahaya perundungan yang begitu dahsyat, lalu apa solusi yang ditawarkan Islam?


Pertama: Membangun Ketakwaan Individu dan Kesadaran Akhirat.
Setiap muslim harus ditanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Tidak ada satu pun ejekan, hinaan, atau pukulan yang luput dari pengawasan-Nya. Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kamu saling mendengki, janganlah saling menipu, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan janganlah sebagian kamu menawar atas penawaran sebagian yang lain; dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Muslim). Persaudaraan inilah yang harus menjadi fondasi.


Kedua: Peran Aktif Lingkungan (Guru, Ustadz, Orang Tua, dan Teman Sebaya).
Islam memerintahkan kita untuk amar ma'ruf nahi munkar. Jika melihat kemungkaran seperti perundungan, kita wajib menghentikannya sesuai kemampuan. Seorang guru atau ustadz tidak boleh abai. Seorang teman tidak boleh diam membiarkan. Rasulullah SAW bersabda: "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim maupun yang dizalimi." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kami paham menolong yang dizalimi, tapi bagaimana menolong yang zalim?" Beliau menjawab, "Kamu cegah dia dari kezalimannya." (HR. Bukhari).


Ketiga: Menegakkan Keadilan dan Rekonsiliasi.
Korban harus dibela dan diberikan pendampingan psikologis. Pelaku harus dihukum secara edukatif, bukan balas dendam, dengan tujuan agar ia menyadari kesalahan dan bertobat. Allah berfirman: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (maka pahalanya) dari Allah." (QS. Asy-Syura: 40). Proses ishlah (rekonsiliasi) harus diupayakan untuk memulihkan hubungan.


Keempat: Menghidupkan Budaya Kasih Sayang.
Rasulullah SAW adalah teladan utama. Beliau sangat penyayang, terutama pada anak-anak dan orang yang lemah. Beliau bersabda: "Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari dan Muslim). Mari kita jadikan majelis ilmu, kelas, dan asrama pesantren sebagai tempat yang penuh dengan senyuman, salam, tutur kata yang lembut, dan saling membantu.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛


Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Marilah kita bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Dimulai dari diri kita, keluarga kita, dan komunitas kita.


اَللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا وَعِلْمًا نَافِعًا. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 


Komentar

Tampilkan

  • Mengikis Perundungan, Menumbuhkan Kasih Sayang dalam Dunia Pendidikan
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”