![]() |
| Prof. Dr. Ali Abubakar, M.Ag (Khatib Masjid Raya Baiturrahman) |
Oleh : Prof. Dr. Ali abubakar, M.Ag
Khatib di MRB tanggal 21 November 2025
Mengikis Perundungan, Menumbuhkan Kasih Sayang dalam Dunia Pendidikan
Khutbah
Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ
تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan senantiasa
melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan inilah bekal
utama untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Hadirin
Rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini, perkenankan khatib mengajak kita semua untuk
merenungkan sebuah fenomena yang semakin marak dan memprihatinkan dalam dunia
pendidikan kita, termasuk di lingkungan pesantren. Fenomena itu adalah perundungan
atau bullying.
Perundungan
adalah tindakan kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikologis, yang
dilakukan secara berulang oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat terhadap
korban yang lebih lemah. Akibatnya sungguh menghancurkan. Jiwa anak-anak yang
seharusnya tumbuh dengan percaya diri, menjadi ciut, penuh trauma, dan terluka.
Masa depan mereka bisa suram karena prestasi akademik menurun, bahkan ada yang
sampai putus sekolah. Tidak jarang, korban membawa luka batin ini hingga
dewasa. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi taman yang mencerdaskan dan
menyenangkan, berubah menjadi ladang ketakutan dan penderitaan.
Peristiwa
terbaru, beberapa minggu lalu ada mahasiswa yang bunuh diri, ada siswa yang
meledakkan sekolahnya, ada santri yang membakar pesantrennya karena tidak tahan
dengan perundungan yang selalu dihadapinya. Ini bukanlah peristiwa baru di
Negara kita tercinta ini. Ini juga bukan
peristiwa asing di provinsi Syariat Islam ini. Cukup banyak peristiwa
perundungan di lembaga pendidikan di Aceh ini, tetapi sering tidak tampak di
permukaan.
Lalu,
apa sebenarnya akar dari masalah ini?
Pertama, hilangnya
rasa hormat dan empati. Pelaku bullying seringkali tidak mampu merasakan
penderitaan orang lain. Hatinya keras, jiwa kosong dari kasih sayang.
Kedua, lingkungan
yang permisif. Terkadang, tindakan ini dianggap sebagai hal yang wajar,
bagian dari "proses pendewasaan", sehingga dibiarkan berlarut-larut
tanpa ada intervensi yang serius dari pihak pengasuh, guru, atau bahkan sesama
santri.
Ketiga, pengaruh
negatif pergaulan dan media. Tontonan dan interaksi di media sosial yang
penuh dengan kekerasan verbal dapat menurunkan sensitivitas anak terhadap rasa
sakit orang lain.
Keempat, keinginan
untuk merasa berkuasa dan diakui. Pelaku seringkali mencari pengakuan
dengan cara menindas yang lemah, sebuah bentuk inferiority complex yang
disalurkan secara keliru.
Jamaah
Jumat yang Berbahagia,
Islam sebagai agama yang sempurna (kāffah) sangat memandang serius
persoalan ini. Islam datang bukan hanya untuk menyembah Allah, tetapi juga
untuk memuliakan manusia dan mengatur interaksi sosial dengan indah.
Allah
SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا
خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
ۚ
Artinya: "Wahai
manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat:
13)
Ayat
ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada kekuatan fisik,
ketampanan, kekayaan, atau latar belakangnya. Kemuliaan hanya dinilai dari
ketakwaan. Setiap manusia, apapun keadaannya, memiliki martabat yang harus
dihormati.
Rasulullah
SAW juga bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya: "Tidak
beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa
yang dia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah
prinsip emas yang mampu memberangus bibit-bibit perundungan. Seorang mukmin
sejati tidak akan mungkin menyakiti, menghina, atau menindas saudaranya, karena
dia menginginkan kebaikan yang sama untuk orang lain sebagaimana untuk dirinya
sendiri.
Jamaah
Jumat yang Dimuliakan Allah,
Menyadari bahaya perundungan yang begitu dahsyat, lalu apa solusi yang
ditawarkan Islam?
Pertama:
Membangun Ketakwaan Individu dan Kesadaran Akhirat.
Setiap muslim harus ditanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Tidak ada
satu pun ejekan, hinaan, atau pukulan yang luput dari pengawasan-Nya.
Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kamu saling mendengki,
janganlah saling menipu, janganlah saling membenci, janganlah saling
membelakangi, dan janganlah sebagian kamu menawar atas penawaran sebagian yang
lain; dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR.
Muslim). Persaudaraan inilah yang harus menjadi fondasi.
Kedua:
Peran Aktif Lingkungan (Guru, Ustadz, Orang Tua, dan Teman Sebaya).
Islam memerintahkan kita untuk amar ma'ruf nahi munkar. Jika melihat
kemungkaran seperti perundungan, kita wajib menghentikannya sesuai kemampuan.
Seorang guru atau ustadz tidak boleh abai. Seorang teman tidak boleh diam
membiarkan. Rasulullah SAW bersabda: "Tolonglah saudaramu yang
berbuat zalim maupun yang dizalimi." Seorang sahabat bertanya,
"Wahai Rasulullah, kami paham menolong yang dizalimi, tapi bagaimana
menolong yang zalim?" Beliau menjawab, "Kamu cegah dia dari
kezalimannya." (HR. Bukhari).
Ketiga:
Menegakkan Keadilan dan Rekonsiliasi.
Korban harus dibela dan diberikan pendampingan psikologis. Pelaku harus dihukum
secara edukatif, bukan balas dendam, dengan tujuan agar ia menyadari kesalahan
dan bertobat. Allah berfirman: "Dan balasan suatu kejahatan adalah
kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (maka
pahalanya) dari Allah." (QS. Asy-Syura: 40). Proses ishlah
(rekonsiliasi) harus diupayakan untuk memulihkan hubungan.
Keempat:
Menghidupkan Budaya Kasih Sayang.
Rasulullah SAW adalah teladan utama. Beliau sangat penyayang, terutama pada
anak-anak dan orang yang lemah. Beliau bersabda: "Barangsiapa yang
tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari
dan Muslim). Mari kita jadikan majelis ilmu, kelas, dan asrama pesantren
sebagai tempat yang penuh dengan senyuman, salam, tutur kata yang lembut, dan
saling membantu.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي
وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا
بَعْدُ؛
Jamaah
Jumat Rahimakumullah,
Marilah kita bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan
yang aman dan nyaman. Dimulai dari diri kita, keluarga kita, dan komunitas
kita.
اَللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا
يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا وَعِلْمًا
نَافِعًا. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا
آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ
مَوْتَانَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ
عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

.jpg)

.jpg)

