Oleh : Dr. Tgk. H. A Gani Isa, M.A.
Di tengah limpahan nikmat yang Allah anugerahkan, manusia juga dihadapkan pada berbagai ujian kehidupan. Musibah, bencana, dan kesempitan yang menimpa sebagian saudara kita menjadi pengingat bahwa dunia ini bukan tempat bersandar, melainkan ladang amal dan ujian keimanan. Dalam keadaan demikian, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bertakwa dan melakukan muhasabah diri. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan waktu—hari, bulan, dan tahun—bukan sekadar pergantian angka, melainkan kesempatan untuk menilai apakah hidup yang dijalani mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjauhkan. Setiap detik yang berlalu tercatat dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada satu pun amal yang luput dari pengetahuan Allah, bahkan sesuatu yang tersembunyi sekalipun.
Tujuan utama penciptaan manusia ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)
Ibadah dalam Islam tidak sempit dan terbatas, tetapi luas dan menyeluruh. Para ulama menjelaskan bahwa ibadah mencakup seluruh perkataan dan perbuatan, lahir dan batin, yang dicintai dan diridhai Allah. Salat, zakat, puasa, dan haji adalah ibadah pokok, namun akhlak yang baik, amanah dalam pekerjaan, berbakti kepada orang tua, menolong sesama, bersedekah, bersabar, bahkan senyum yang tulus kepada saudara, semuanya bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)
Ibadah mengajarkan ketundukan, kerendahan diri, dan kecintaan kepada Allah. Dalam kajian tasawuf, manusia beribadah dengan tingkatan yang berbeda-beda: ada yang beribadah karena mengharap pahala, ada yang karena takut akan siksa, dan ada pula yang beribadah semata-mata karena Allah memang berhak disembah. Tingkatan terakhir inilah puncak keikhlasan, ketika seorang hamba tidak lagi memperhitungkan balasan, melainkan hanya mengharap rida Allah.
Kesempurnaan ibadah tidak terlepas dari kesucian diri. Kesucian tidak hanya bersifat lahir dari hadas dan najis, tetapi juga mencakup kesucian anggota tubuh dari dosa, kesucian hati dari sifat tercela, serta kesucian batin dari ketergantungan kepada selain Allah. Rasulullah ﷺ menggambarkan salat sebagai sarana penyucian jiwa melalui sabdanya:
“Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah salah seorang dari kalian ada sungai, lalu ia mandi di dalamnya lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?”
Para sahabat menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Demikianlah perumpamaan salat lima waktu, Allah menghapus dengannya dosa-dosa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang menjaga salat dan kesucian dirinya akan merasakan ketenangan batin, keteguhan jiwa, serta terhindar dari kegelisahan dan kekosongan spiritual. Mereka tidak dilalaikan oleh urusan dunia dari mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya:
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.”
(QS. An-Nur: 37)
Harta dan dunia hanyalah titipan. Ia dapat mendekatkan kepada Allah jika digunakan di jalan kebaikan, dan dapat pula menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan, sebagaimana kisah Qarun. Karena itu, Allah mengajak hamba-Nya untuk berbisnis dengan-Nya, sebuah perniagaan yang tidak pernah merugi:
“Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih?”
(QS. Ash-Shaff: 10)
Setiap amal, sekecil apa pun, akan mendapatkan balasan. Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Oleh karena itu, waktu yang tersisa dalam kehidupan hendaknya diisi dengan iman, amal saleh, kesabaran, dan ketakwaan. Waktu adalah misteri yang menyimpan berbagai keadaan hidup, dan hanya orang-orang yang menjaga waktu dengan ketaatanlah yang tidak akan merugi.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjadikan kita hamba-hamba yang memahami hakikat ibadah, menjaga kesucian lahir dan batin, serta mengisi sisa umur dengan amal yang diridhai-Nya.
Wallahu waliyyut taufiq wal hidayah.

.jpg)

.jpg)

