-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

Niat sebagai Penentu Nilai Amal di Sisi Allah

mrb
Sunday, January 11, 2026, January 11, 2026 WIB Last Updated 2026-01-11T12:57:28Z


 Oleh : Tgk H. Bustami MD

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang telah menciptakan manusia bukan untuk kesia-siaan, melainkan untuk beribadah kepada-Nya dengan tujuan yang lurus. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, serta seluruh umat yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.


Dalam ajaran Islam, niat menempati kedudukan yang sangat fundamental. Niat bukan sekadar keinginan atau rencana, melainkan qashad al-qalb (kehendak hati) yang menyertai perbuatan. Baik dan buruknya suatu amal, diterima atau tertolaknya ibadah, semuanya berpulang kepada niat yang tersembunyi di dalam hati seorang hamba.


Allah Subhanahu wa Ta‘ala menegaskan bahwa seluruh perintah agama bermuara pada penghambaan yang murni kepada-Nya:


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam keadaan lurus.”

(QS. Al-Bayyinah: 5)


Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah yang benar harus dibangun di atas niat yang lurus, yaitu mengarahkan tujuan amal hanya kepada Allah Ta‘ala, bukan kepada selain-Nya.


Rasulullah ﷺ meletakkan kaidah agung tentang niat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu:


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)


Hadis ini merupakan pokok dalam seluruh ibadah dan muamalah. Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini mencakup dua prinsip besar: pertama, sah atau rusaknya amal ditentukan oleh niat; kedua, nilai dan pahala amal bergantung kepada tujuan yang diniatkan.


Dalam praktik ibadah, niat berfungsi membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Mandi yang dilakukan untuk menghilangkan hadas besar bernilai ibadah, sedangkan mandi untuk menyegarkan badan semata tidak bernilai ibadah, meskipun perbuatannya sama. Demikian pula salat, puasa, dan zakat, semuanya tidak sah tanpa niat.


Rasulullah ﷺ kemudian memberikan gambaran yang sangat jelas melalui peristiwa hijrah:


فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu (bernilai) kepada Allah dan Rasul-Nya.”


Hijrah yang dilakukan karena niat ibadah akan bernilai pahala yang besar, meskipun secara lahiriah tampak sama dengan hijrah yang dilakukan karena tujuan duniawi.


Namun Rasulullah ﷺ juga memperingatkan:


وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia tuju.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan bahwa amal yang sama dapat bernilai sangat berbeda di sisi Allah, tergantung niat yang melatarinya. Seseorang bisa memperoleh apa yang ia inginkan di dunia, tetapi tidak mendapatkan pahala di akhirat apabila niatnya tidak tertuju kepada Allah.


Allah Ta‘ala juga menegaskan tujuan penciptaan manusia:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)


Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas seorang mukmin—baik ibadah ritual maupun aktivitas duniawi—dapat bernilai ibadah apabila diawali dengan niat yang benar dan sesuai dengan syariat.


Oleh karena itu, seorang hamba wajib senantiasa meluruskan niat sebelum, ketika, dan setelah beramal, agar amal tersebut tidak tercemar oleh riya’, sum‘ah, atau tujuan-tujuan duniawi semata.


Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala membimbing hati kita untuk selalu menata niat, memurnikan tujuan, dan menerima seluruh amal ibadah kita.


Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Komentar

Tampilkan

  • Niat sebagai Penentu Nilai Amal di Sisi Allah
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”