-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

Menegakkan Nilai Al-Qur’an di Tanah Para Syuhada

mrb
Thursday, February 19, 2026, February 19, 2026 WIB Last Updated 2026-02-20T03:57:45Z

Oleh : Tgk Abdul Wahid (Abi Wahed) 

Saudara kaum muslimin umat Nabi Muhammad ﷺ yang dirahmati Allah, Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi masjid perjuangan, masjid umat Islam, dan simbol kemuliaan syariat di Tanah Rencong. Pada tahun 1873, ketika agresi Belanda menyerbu Aceh, masjid ini menjadi saksi perlawanan para mujahid Aceh yang mempertahankan agama dan tanah air. Tercatat tidak kurang dari 1.200 orang syuhada gugur dalam mempertahankan kehormatan Islam dan masjid ini. Bahkan Jenderal Kohler tewas di halaman masjid ini dalam pertempuran tersebut. Peristiwa ini menegaskan bahwa Baiturrahman adalah masjid yang dibangun di atas pengorbanan dan darah para syuhada.


Semoga Allah ﷻ mewariskan kepada kita semangat jihad, keteguhan iman, dan kemuliaan sebagaimana yang Allah karuniakan kepada mereka. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”(QS. Ali ‘Imran: 169).


Ayat ini menegaskan bahwa para syuhada memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Maka, menjaga nilai-nilai Islam di masjid ini berarti melanjutkan amanah perjuangan mereka.


Saudara kaum muslimin rahimakumullah, di antara amalan yang menjadi kunci segala kebaikan adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ. Shalawat merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dosa, serta jalan untuk mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”(HR. Muslim no. 408)


Shalawat adalah asbab keberkahan hidup, kesuksesan dunia akhirat, bahkan sebab kita berkumpul bersama Rasulullah ﷺ di surga. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, hendaknya kita memperbanyak shalawat, memperkuat hubungan ruhani dengan Nabi ﷺ, dan meneladani perjuangan beliau.


 Turunnya Al-Qur’an di Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”(QS. Al-Baqarah: 185)


Wahyu pertama turun pada 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, ketika Rasulullah ﷺ berada di Gua Hira, di Jabal Nur, kota suci Makkah Al-Mukarramah. Peristiwa ini menjadi tonggak perubahan sejarah umat manusia. Dari gua yang sunyi itu, cahaya wahyu menerangi dunia hingga hari kiamat.


Al-Qur’an adalah pedoman hidup (hudā), pemberi solusi, penyembuh (asy-syifā’), rahmat, sumber hukum, dan pemersatu umat. Allah berfirman:


“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)


Namun realitas hari ini menunjukkan banyak manusia yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an, tetapi lebih mengharap hukum selain hukum Allah. Mereka membaca dan menghafalnya, bahkan memperlombakannya, tetapi tidak menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Allah ﷻ memperingatkan:

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50)


Ayat ini menjadi teguran keras agar Al-Qur’an tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.


Saudara-saudara sekalian, akhir zaman dipenuhi huru-hara, fitnah, dan ujian. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya…” (HR. Ahmad)


Solusi menghadapi zaman yang berat ini adalah kembali kepada Al-Qur’an. Bacalah, hafalkan, pahami, dan amalkan. Jadikan Al-Qur’an sebagai rujukan dalam membangun sistem kehidupan, memperbaiki akhlak, dan menegakkan keadilan. Orang yang bersama Al-Qur’an akan dimuliakan di dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim no. 817)


Dua Golongan di Akhir Zaman


Manusia di akhir zaman terbagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, golongan pendusta, zalim, sombong, dan pembuat kerusakan di muka bumi. Mereka membunuh manusia tanpa hak, menindas kaum lemah, bahkan merusak alam. Allah ﷻ berfirman:

 “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”(QS. Al-A’raf: 56)


Kelompok kedua adalah orang-orang yang taat kepada Allah, berbuat baik kepada sesama makhluk, dan tunduk kepada Sang Khalik. Mereka inilah yang disebut sebagai hamba-hamba Ar-Rahman (QS. Al-Furqan: 63–74).


Golongan pertama kelak akan berada dalam barisan Dajjal dan para pengikutnya, simbol kedzaliman dan fitnah terbesar. Sejarah telah mencatat keteguhan ulama dalam menghadapi penguasa zalim, seperti keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal dalam mempertahankan kemurnian akidah Al-Qur’an saat peristiwa Mihnah. Keteguhan beliau menjadi pelajaran bahwa mempertahankan kebenaran membutuhkan kesabaran dan pengorbanan.

 

Sikap Muslim Menghadapi Kedzaliman


Bagaimana sikap seorang muslim ketika menghadapi kedzaliman? Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.”(HR. Muslim no. 49)


Hadis ini menegaskan tanggung jawab kolektif umat Islam dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Jangan menjadi bagian dari sistem kedzaliman, bahkan jangan menjadi pendukungnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.


Jika kita istiqamah di jalan Allah, membela agama, menjaga keluarga, dan wafat dalam keadaan membela kebenaran, maka Allah menjanjikan pahala syahid. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia syahid; barang siapa terbunuh karena mempertahankan agamanya, maka ia syahid…”(HR. Abu Dawud no. 4772)


Akhirnya, di tanah para syuhada ini, marilah kita tegakkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Jadikan Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya simbol sejarah, tetapi pusat kebangkitan ruhani dan peradaban Islam. Dengan Al-Qur’an kita bangkit, dengan Al-Qur’an kita mulia, dan dengan Al-Qur’an kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.


Amin ya Rabbal ‘alamin.


Komentar

Tampilkan

  • Menegakkan Nilai Al-Qur’an di Tanah Para Syuhada
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”