-->

Back Groud MRB (atas)


 

Pengumuman

Jadwal Shalat

Bahaya Sumpah Palsu dan Karakter Pendusta dalam Kehidupan

mrb
Thursday, January 29, 2026, January 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-30T04:21:39Z

Dr. KH. Muharirr Asy'ari, Lc.,M.Ag
(Penceramah MRB)

 

Bahaya Sumpah Palsu dan Karakter Pendusta dalam Kehidupan


Oleh: Dr. K.H. Muharrir Asy’ari, M.Ag

Penceramah Masjid Raya Baiturrahman


Menjaga lisan bukan sekadar etika berkomunikasi, melainkan landasan integritas seorang beriman. Dalam kajian yang merujuk pada pemikiran Imam Azzahabi, terdapat dua penyakit lisan yang sangat berbahaya dan dikategorikan sebagai dosa besar: sumpah palsu (yamin al-ghamus) dan kebiasaan berbohong.


Sumpah palsu disebut sebagai al-ghamus yang secara bahasa berarti tercebur. Istilah ini sangat tepat karena seseorang yang sengaja bersumpah dusta sesungguhnya sedang menceburkan dirinya ke dalam dosa dan murka Allah. 


Fenomena ini sering kita jumpai dalam interaksi sehari-hari, seperti dalam perdagangan menggunakan nama Allah agar dagangan laris, padahal kualitas barang tidak sesuai kenyataan.


Demikian pula dalam urusan harta orang sering bersumpah bohong demi merebut hak atau harta orang lain, meskipun hanya sekecil ranting kayu siwak. Ada juga dalam persahabatan dan peradilan menjadi saksi palsu yang mengaburkan kebenaran.


Perlu kita sadari, sumpah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Bersumpah atas nama makhluk atau tradisi masa lalu (seperti Lata dan Uzza) merupakan bentuk penyimpangan yang harus segera ditebus dengan kalimat tauhid, Lailahaillallah.


Lebih jauh lagi, kebiasaan berbohong merupakan pintu gerbang menuju kezaliman dan api neraka. Seseorang yang terus-menerus berdusta akan sampai pada titik di mana Allah mencapnya sebagai seorang kadzab (pendusta). Jika sudah menjadi tabiat atau karakter, maka sulit bagi individu tersebut untuk mendapatkan petunjuk.


Tanda-tanda kemunafikan sangat lekat dengan mereka yang: bicara selalu berbohong, berjanji selalu mengingkari, dipercaya malah berkhianat, serta bertengkar dengan cara yang keji.


Selain menghindari kebohongan verbal, kita juga diminta menjauhi buruk sangka (suuzan). Buruk sangka sering kali menjadi "pembicaraan paling bohong" yang ada dalam pikiran kita. Sebaliknya, kita didorong senantiasa mengedepankan berpikir positif (husnuzan) dalam memandang sesama.


Jadi dosa lisan memiliki konsekuensi yang berat, bahkan bagi para penguasa atau pemimpin yang gemar memberikan informasi dusta kepada rakyatnya. Mari kita jaga lisan kita agar tidak mudah mengucap sumpah demi keuntungan duniawi yang sedikit dan senantiasa membiasakan kejujuran agar tidak dicap sebagai pengkhianat di hadapan Allah Subhanahu wa Taala.*

Komentar

Tampilkan

  • Bahaya Sumpah Palsu dan Karakter Pendusta dalam Kehidupan
  • 0


Jadwal Shalat

”jadwal-sholat”