![]() |
| Abu H. Bustami MD (Penceramah MRB) |
Hakikat Niat dan Keikhlasan dalam Berbagi
Oleh: Tgk. H. Bustami M. Daud
Penceramah Masjid Raya Baiturrahman
Nilai amal sangat bergantung pada niat di balik tindakan tersebut. Hal ini terlihat jelas dalam kisah sahabat Nabi, Yazid, yang menitipkan uang sedekah di masjid untuk orang yang membutuhkan, namun tanpa sengaja justru diambil oleh anaknya sendiri, Ma'nun, yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Peristiwa ini memberikan sudut pandang menarik, yaitu ketulusan hati penentu pahala. Ketika seorang ayah berniat sedekah untuk siapa saja yang membutuhkan, Allah tetap mencatat pahalanya secara penuh, meskipun uang tersebut pada akhirnya kembali ke lingkaran keluarganya sendiri.
Di sisi lain, sang anak pun berhak atas bantuan tersebut karena ia memang memenuhi kriteria orang yang sedang berhajat. Ini mengajarkan kita bahwa bersedekah secara rahasia, bahkan sampai tidak tahu siapa penerimanya, adalah metode yang efektif menjaga hati dari sifat ria (ingin dipuji).
Sering kali manusia memiliki kecenderungan menumpuk harta dan baru terpikir beramal besar ketika tubuh sudah digerogoti sakit. Namun Islam memberikan batasan yang sangat bijak melalui wasiat. Seseorang yang sedang sakit parah hanya diperkenankan mewasiatkan maksimal sepertiga hartanya untuk kepentingan sosial atau agama.
Mengapa ada batasan sepertiga? Ada dua alasan etis yang bisa kita renungkan, pertama, perlindungan bagi ahli waris; meninggalkan keluarga dalam keadaan berkecukupan jauh lebih mulia daripada membiarkan mereka hidup dalam kesulitan dan meminta-minta setelah kita tiada. Kedua, ujian keikhlasan. Harta yang sudah di ambang kematian sebenarnya bukan lagi milik penuh sang pemilik, melainkan sudah ada hak ahli waris di dalamnya.
Oleh karena itu, sebaiknya jangan menunda-nunda sedekah hingga masa senja atau saat raga sudah tak berdaya. Menyalurkan harta saat masih muda dan sehat lebih utama secara pahala, sekaligus menunjukkan dominasi ketaatan atas kecintaan kita terhadap dunia.
Karena itu, sedekah bukan hanya memindahkan harta dari tangan satu ke tangan lain, melainkan tentang bagaimana kita membersihkan hati dan menyeimbangkan tanggung jawab sosial dengan tanggung jawab keluarga. Baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga keikhlasan, maupun secara terang-terangan untuk memberi motivasi kepada sesama, kuncinya tetap satu, lillahi ta'ala.*

.jpg)

.jpg)

