BANDA ACEH — Halaqah Magrib Masjid Raya Baiturrahman Aceh menghadirkan Guru Besar UIN Sumatera Utara, Abuya Prof. Dr. Muzakkir, M.Ag., Kamis (13/8/2026). Dalam kajiannya, Abuya Muzakkir mengajak jamaah merenungkan kembali hakikat perjalanan manusia menuju Allah SWT, dengan menjadikan kematian sebagai pintu awal untuk memahami makna kehidupan dan pentingnya menjadi ‘abdan syakura, yakni hamba yang senantiasa bersyukur.
Mengawali kajian, Abuya Muzakkir mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dalam perspektif tasawuf, ia menjelaskan terdapat tiga bentuk perjalanan manusia menuju Allah SWT.
Pertama, perjalanan secara terpaksa (ittirari), yaitu kematian. Menurutnya, kematian merupakan perjalanan yang tidak dapat dinegosiasikan dan pasti akan dialami setiap manusia. Karena itu, manusia perlu mempersiapkan kematian dengan amal terbaik agar memperoleh husnul khatimah.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian telah datang. Dalam QS Al-Munafiqun ayat 10, manusia berharap diberi penangguhan waktu agar dapat bersedekah dan menjadi bagian dari orang-orang saleh. Namun, ketika ajal telah tiba, Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang.
Kedua, perjalanan secara sukarela, yang tercermin melalui ibadah salat. Salat menjadi sarana seorang mukmin mendekatkan diri kepada Allah dan membangun hubungan spiritual yang kuat dengan-Nya. Ketiga, perjalanan melalui ibadah haji dan umrah, yang menurut Abuya Muzakkir merupakan perjalanan spiritual untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam kajian tersebut, Abuya Muzakkir juga mengajak jamaah membangun ketenangan jiwa. Ia mengutip QS Al-Fajr ayat 27–30 tentang nafsul muthmainnah, jiwa yang tenang dan mendapat panggilan untuk kembali kepada Allah SWT dalam keadaan diridai dan meridai. Menurutnya, salah satu jalan menghadirkan ketenangan itu adalah dengan memperbanyak zikir dan mengingat Allah SWT.
Kajian kemudian ditutup dengan pesan agar manusia tidak hanya mengejar kehidupan dunia, tetapi mempersiapkan perjalanan akhirat dengan amal, rasa syukur, ibadah, dan kedekatan kepada Allah SWT. Abuya Muzakkir mengaitkannya dengan QS Al-Furqan ayat 74 tentang doa agar keluarga dan keturunan menjadi qurrata a’yun—penyejuk mata—serta menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa.
Halaqah Magrib tersebut turut dihadiri Rektor UIN Sumatera Utara Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag.; Kepala Biro AUPK UIN Sumatera Utara Dr. Drs. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd.; serta Kepala Humas Masjid Raya Baiturrahman Aceh Dr. H. Said Mulyadi, M.Si.
Halaqah Magrib merupakan salah satu program rutin Masjid Raya Baiturrahman Aceh sebagai ruang penguatan ilmu keislaman dan pembinaan spiritual jamaah. Kegiatan ini menghadirkan para ulama, akademisi, dan tokoh keilmuan untuk berbagi pengetahuan serta menghidupkan tradisi keilmuan Islam di Masjid Raya Baiturrahman Aceh.
[Humas MRB Aceh — Rifki Ismail, S.Ag., M.Pd.]

.jpg)

.jpg)

