
![]() |
M.
Zulfadhli Alfasiy (Pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah Kota Banda Aceh) |
Madrasah Diniyah Takmiliyah : Pilar Pendidikan Akhlak di Era Modern
Oleh : M. Zulfadhli Alfasiy
Madrasah Diniyah Takmiliyah adalah lembaga
pendidikan Islam non-formal yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan di luar
jam sekolah umum. Ada yang menyebutnya madin ataupun MDT biasanya dilaksanakan
pada sore, malam hari bahkan dikolaborasi dengan pendidikan formal dan menyasar
anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah. Meski terkesan sebagai pelengkap,
peran MDT justru sangat vital dalam membentuk jiwa dan moral anak-anak sejak
dini.
Secara
peran, ia mengisi segmen dalam hal Memperdalam
Pemahaman Agama Islam, pembentukan karakter dan akhlak, pelestarian nilai
budaya dan agama bahkan ia pun mampu bersanding sebagai penunjang prestasi
Sekolah/madrasah. Proses penyelenggaraan yang jelas tertulis dalam perturan
pemerintah no 55 tahun 2007 madin menjadi pilar utama dalam pembangunan dalam
mempersiapkan generasi mendatang yang mempunyai pengetahuan agama, berwawasan
dan mempunyai keterampilan hidup yang memadai dan berkarakter akhlak mulia
berkat peghayatan yang mendalam dari ajaran islam.
Kembali
ke tema, Krisis moral yang melanda generasi saat ini bukan sekadar isapan
jempol. Data dan realita sosial menunjukkan peningkatan perilaku menyimpang,
seperti bullying, kenakalan remaja, pornografi, hingga kejahatan digital yang
merambah setiap sudut pendangan mata, Banyak menimpa di antara anak-anak yang
cakap secara akademik, namun miskin dalam adab dan tata krama. Sehingga nilai
luhur ilmu yang semestiny menjadi Nur atau cahaya tak membekas pada wujud
jasadiyah manusia tersebut. Dan Di sinilah letak urgensinya MDT: menjadi garda
depan dalam pendidikan akhlak dan pembinaan karakter Islami.
Dibeberapa
daerah dalam Negara kita, MDT menjadi satu-satunya harapan bagi anak-anak untuk
belajar agama secara istiqamah. Saat tidak semua orang tua mampu menyekolahkan
anak ke pesantren. Maka, alternatifnya adalah MDT sebagai solusi terjangkau dan
efektif. Bahkan, MDT telah terbukti mampu melahirkan generasi muda yang kuat
spiritualitasnya dan santun dalam bertutur serta berperilaku. MDT juga menjadi penguat
peran keluarga dan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai keislaman dalam
kehidupan sehari-hari.
Sayangnnya,
MDT belum mendapatkan perhatian khusus dari banyak pihak, baik dari segi status
keberadaaanya, pengetahuan tentang regulasinya, apalagi berbicara terkait
sarana dan financial. Sehingga terkesan , masyarakat enggan mengetahui posisi
dan regulasinya yang padahal jelas itu sah keberadaaannya secara hukum Negara. Maka mestinya peran kolaborasi yang
dibangun sekolah dan madrasah diniyah harusnya dibentuk seresmi mungkin
sehingga terhindar dari imbas atas kebijakan
dan kepentingan pimpinan lembaga yang memanfaatkan keberadaanya.
Secara fungsi, MDT tidak hanya mengajarkan
teori agama seperti fikih, tauhid, dan Al-Qur'an, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
luhur melalui keteladanan guru, pembiasaan ibadah, dan interaksi sosial yang
sehat. Para ustaz dan ustazah di MDT memainkan peran ganda, bukan hanya sebagai
pengajar, tetapi juga sebagai pendidik akhlak yang hadir dengan cinta,
kesabaran, dan pengabdian tulus. Dalam suasana yang akrab dan religius,
anak-anak lebih mudah menyerap nilai-nilai moral dan membentuk kepribadian yang
shalih.
Dari celah sisi yang lain,menyongsong
eradigital saat ini, pelaksana MDT pun juga perlu beradaptasi dengan perkembangan
zaman yang Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Semestinya ide untuk
membimbing pembuatan konten dakwah digital, dan penyelenggaraan kelas daring
menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Yang terpenting, esensi dari MDT
tidak boleh hilang sebagai ruang pendidikan ruhani yang menyejukkan dan
mengarahkan generasi muda pada nilai-nilai kebaikan.
Sudah saatnya kita memandang MDT bukan
sebagai pelengkap pendidikan, tetapi sebagai pilar utama dalam membentuk
kepribadian bangsa. Di tengah krisis multidimensi, kebangkitan akhlak yang
harus dimulai dari rumah, sekolah, dan lingkungan sosial, di mana MDT menjadi
titik temu dari ketiganya. Sehingga kita semua punya tanggung jawab untuk
menjaga lentera itu tetap menyala.
MDT adalah cahaya harapan di tengah gelapnya
zaman. Kebaradaaannya bisa saja
dikolaborasikan ke dalam program kurikulum Aceh Meuadab dan mungkin bisa saja
diintegrasikan dengan Madrasah formal dibawah kementerian agama. Karena Dengan
menyokongnya, kita tidak hanya menyelamatkan generasi dari krisis akhlak,
tetapi juga mewariskan peradaban yang bermartabat dan beradab untuk masa depan.
Hal ini semata karena pendidikan yang sejati bukan hanya kepala yang pintar,
tetapi juga hati yang mulia. Wallahu
A’lam
Penulis : M.
Zulfadhli Alfasiy
Pengurus Forum
Komunikasi Diniyah Takmiliyah Kota Banda Aceh